Selasa, 10 Mei 2011

Ranah 3 Warna: Bersabarlah, dan Anda akan Beruntung

TEPAT tanggal 23 Januari 2011 kemarin Ranah 3 Warna, seri kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, resmi terbit. Hampir dua tahun sejak peluncuran novel yang pertama. Bukan waktu yang terlalu lama sebenarnya. Saya sendiri bukan penggemar trilogy ini jadi bukan termasuk mereka yang menunggu novel ini terbit, walaupun konon karya pertamanya sangat fenomenal dan inspiratif. Tapi seperti yang saya ceritakan sebelumnya joinan saya dengan pacar untuk tukar-menukar pinjam Ranah 3 Warna dengan Negeri 5 Menara membuat saya akhirnya membeli novel ini. Jika Negeri 5 Menara mempunyai cerita yang unik, menarik dan inspiratif, lantas kemudian bagaimana dengan novel ini? Sama inspiratifnya atau malah menurun?
Alif masih menjadi sentral dalam cerita novel ini. Hanya saja kali ini dia sudah berpisah dengan para Sahibul Menara. Lulus dari pesantren Alif pulang kampung dan sejenak bereuni denga Randai, sahabat sekaligus kompetiornya, yang sedang libur kuliah dari ITB. Alif ingin menyusul jejak Randai kuliah di ITB. Sayang untuk menggapai itu tidak mudah. Bahkan Randai-pun meragukannya karena Alif hanyalah lulusan sekolah agama, tanpa ijazah pula.
Terinspirasi semangat timnas Denmark yang di luar ekspektasi banyak orang bisa menjuarai Piala Eropa 1992 Alif berusaha keras lulus ujian persamaan SMA dan kemudian lulus SMPTN. Karena kurang mahir dengan ilmu pasti, Alif memutuskan memilih jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung. Sukses, Alif pun menjadi mahasiswa Unpad. Di Bandung dia tinggal bersama Randai. Walaupun rukun, tetap saja mereka bersaing, termasuk untuk mendapatkan perhatian Raisa. Raisa ini tetangga kos Alif dan Randai. Dalam hal ini Randai lebih unggul karena Alif cenderung canggung bila berhadapan dengan wanita. Latar belakang pesantren membuat dia seperti itu.
Suatu waktu Alif bisa mengalahkan Randai. Alif mengalahkan Randai dalam perebutan merebutkan program pertukaran pelajar ke Kanada. Kebetulan Raisa juga lolos. Alif merasa peluang dia ‘mendapatkan’ Raisa lebih besar karena pada titik ini dia sudah ‘lebih’ dari Randai, sampai nantinya di akhir cerita impian Alif mendapatkan Raisa itu berantakan. Barantakan bagaimana? Silahkan Anda baca sendiri novel ini.
Secara garis besar novel ini terbagi menjadi 2 plot. Plot yang pertama tentang perjuangan Alif menembus perkuliahan sampai menjadi mahasiswa. Subplot-nya ada dua yaitu yang pertama perjuangan menembus perkualiahan dan yang kedua suda-duka menjadi mahasiswa. Di sini diceritakan banyak halangan selama Alif menjadi mahasiswa, mulai kehabisan uang, dirampok saat berjualan, berselisih dengan Randai dan yang terparah adalah ayahnya meninggal.
Plot yang kedua bercerita tentang kehidupan Alif di Kanada selama ia menjalani pertukaran pelajar. Selama di Kanada dia magang menjadi volunteer di salah satu tv local dan nantinya membuat satu program acara yang fenomenal karena melibatkan tokoh politik nasional Kanada. Selain itu juga diceritakan tentang kehidupan dia di Kanada bersama kawan-kawannya yang asli Indonesia juga kawan-kawan barunya yang asli Kanada, termasuk bersama ibu asuhnya di Kanada.
Kalau nyawa dari Negeri 5 Menara adalah pada potongan ayat man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil), maka di Ranah 3 Warna ini nyawanya ada pada man shabara zafira (barang siapa yang bersabar dia akan beruntung). Mantra yang ini boleh dibilang mantra yang pasif karena menganjurkan kita bersabar untuk menunggu keberuntungan itu datang, berbeda dengan mantra yang pertama yang mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh berusaha. Wajar, karena ini adalah step selanjutnya setelah kita berusaha. Kuasa Tuhanlah yang akan membuat apapun usaha kita berhasil. Ada petikan yang sangat bagus di novel ini tentang itu:
Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun. Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.‘.
Ada sebuah antiklimaks yang menurut saya cukup mengganggu dari novel ini. Awalnya novel ini berjalan smooth, saya cukup menikmatinya. Begitu juga saat Alif menjadi mahasiswa, berguru pada Bang Togar, sampai ke perjuangan memperebutkan jatah studi banding ke Quebec. Semuanya smooth. Sayangnya ketika Alif sudah sampai Kanada entah kenapa novel ini hanya menjadi semacam liburan saja. Sisi inspiratifnya memudar. Padahal awalnya novel ini cukup inspiratif, apalagi membaca perjuangan Alif lolos Ujian Persamaan SMA dan SNMPTN dengan ilham timnas Denmark yangjuara EURO Cup 1992. Memang ada cerita yang bisa kita pelajari dari Alif saat dia mengadakan program TV yang mengundang tokoh nasional Kanada, namun selain itu kita hanya ‘dipameri’ tentang Kanada dan liburan Alif. Agak disayangkan menurut saya.
Selain itu apa-apa yang diperoleh Alif di Kanada tampak begitu mudah. Tidak sampai harus bersabar keinginan itu bisa terpenuhi. Mungkin maksud penulis, ini adalah buah dari kesabaran Alif saat di tanah air yang begitu banyak ditimpa musibah. Tapi menurut saya kalau semua keinginan Alif itu terpenuhi malah jadi mengurangi moral yang ada di cerita ini. Cerita malah menjadi turun ‘kualitas’ karena menjadi hanya sekedar liburan belaka.
Terlepas dari itu semua, saya benar-benar kagum dengan cara penulis mengolah kata menjadi tulisan. Sama seperti novel sebelumnya, bisa dibilang novel ini penuh dengan pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dengan tanpa terkesan menggurui. Mengedapankan kata kunci ‘sabar’ tentunya ada pasangan yang menyertainya, yaitu kesusahan-kegagalan-ketidakberhasilan-dan-kata-semacam-itu. Bagusnya penulis, kesusahan itu tidak ditampilkan secara lebay bak sinetron. Semuanya dalam proporsi yang tepat. Saat ayah Alif meninggal, tentu saja Alif sedih, namun penulis tidak mengeksplorasi kesedihan itu menjadi sesuatu yang mengharu-biru. Proporsional saja, termasuk saat Alif ‘bangkrut’ dan dirampok. Saya cukup suka keproporsionalan itu. Ah, seandainya saya dikarunia bakat seperti Fuadi. #ngarep
Terakhir, memang sejujurnya saya lebih suka Negeri 5 Menara daripada yang ini karena ada banyak ‘rahasia’ di novel yang pertama itu. Namun bukan berarti novel ini kalah kelas. Tidak, karena tiap novel tentunya ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. <


Ranah 3 Warna

selasa, 10 mei 2011

Ranah 3 Warna

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
– Imam Syafii -

Selayaknya perjalanan hidup yang terus berjalan seiring dengan waktu, begitu pun dengan kehidupan Alif Fikri yang tetap berjalan seiring dengan pertambahan usia. Alif yang dalam Negeri 5 Menara masih menuntut ilmu di Pondok Madani, sekarang telah mengkhatamkannya dan kembali ke kampung halaman. Meskipun telah khatam dari PM, Alif masih menyimpan hasrat yang terpendam, menjadi penerus Habibie! Untuk itu ia bertekad agar dapat lulus dan mengenyam pendidikan di ITB, kampus yang juga ia impikan. Akan tetapi, sebagai lulusan pesantren yang tanpa ijazah, ternyata jalan yang harus ditempuh untuk mencapai apa yang ia inginkan sungguh berliku, mulai dari harus lulus dari ujian persamaan sampai lulus UMPTN.

Sempat frustasi dan tertatih-tatih karena kesulitan mengejar materi ujian persamaan, semangat Alif kembali menjulang setelah terinspirasi kemenangan timnas Denmark di Piala Eropa tahun 1992. Denmark yang sangat tidak diperhitungkan karena lolos dengan predikat ‘pengganti’ ternyata mampu mengguncang dunia dengan menjadi kampiun di benua biru saat itu. Dengan semangat dinamit Denmark akhirnya ujian persamaan berhasil dilangkahinya meskipun dengan nilai yang agak pas-pasan. Menyadari memiliki kelemahan dalam ilmu pasti, Alif akhirnya banting setir ke Jurusan Hubungan International, karena ingin memenuhi hasratnya yang lain… menguasai banyak bahasa. Untuk itu alif harus kembali berjibaku dengan berbagai bahan UMPTN. Dan hasilnya ternyata tidak sia-sia, karena Alif berhasil menjadi salah satu peserta yang berhasil lulus.

Untuk kedua kalinya, Alif akhirnya kembali merantau, setelah sebelumnya merantau ketika mondok, sekarang Alif akan merantau untuk mengejar hasratnya menjadi penguasa bahasa. Dengan bekal dari motor honda bebek tahun 70 milik ayahnya yang telah dijual dan sepasang sepatu hitam pemberian ayahnya, petualangan pun dimulai. Tujuan pertama Alif adalah kos Randai karena Alif akan menumpang hidup di kos sahabat sekaligus kompetitor utamanya itu.

Hidup di bandung ternyata tidak semulus dan seindah yang dibayangkan, apalagi setelah Ayahanda tercintanya meninggal dunia. Sempat terpukul hingga semangatnya terjerembab ke titik paling bawah, Alif akhirnya meneruskan perjuangannya setelah mendapat beberapa pencerahan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah serta memberikan sedikit kiriman ke kampung halaman, Alif pun mulai berjualan dari pintu ke pintu dan mengajar les. Akan tetapi ternyata hidup seringkali tidak linear dengan harapan kita. Buah dari segala ikhtiar yang ia kerjakan bukan hanya belum sesuai dengan yang diharapkan akan tetapi ikhtiar tersebut malah membuat tubuh Alif menjadi hancur lebur, fisiknya menurun hingga akhirnya menderita Typhus.

Kesungguhan Alif dalam berikhtiar yang tak kunjung membuahkan hasil, pada akhirnya membuatnya tersadar bahwasanya Man jadda wajada saja tidaklah cukup, karena jarak antara kesungguhan dan hasil tidak pernah kita ketahui. Terkadang membutuhkan waktu satu detik, kadang dalam hitungan bulan, dan bahkan kadang berpuluh tahun. Eureka!! Dalam perenungannya tiba-tiba ia teringat akan pepatah arab lain yang diajarkan di PM, yaitu Man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Karena untuk mengisi antara kesungguhan dengan hasil memang membutuhkan kesabaran. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, dan sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Peribahasa inilah yang kemudian memompa kembali semangat Alif.

Dan ditengah kesabaran itulah Alif akhirnya menyadari, kalau panggilan jiwanya ternyata bukanlah di jalur perniagaan meskipun ia minang tulen, akan tetapi dalam hal tulis menulis dengan merangkai kata-kata menjadi makna. Untuk itu memperdalam ilmu penulisannya, Alif pun kembali kepada Togar dan memintanya kembali menjadi mahagurunya dalam hal merangkai kata, hingga akhirnya satu demi satu dari tulisan Alif mendapatkan apresiasi dan dimuat di surat kabar.

Man Shabara Zhafira ternyata memang bertuah, kesabaran yang aktif memang mendatangkan keberuntungan. Dalam perjalanan, secara tidak sengaja Alif bertemu dengan Asti yang pada akhirnya membuka jendela informasi Alif akan adanya pertukaran pelajar antara Indonesia dengan negara lain. Alif pun kemudian mulai mencari informasi tentang pertukaran pelajar tersebut,hingga akhirnya pendaftaran pertukaran pelajar tersebut dibuka, Alif pun segera mendaftar dan akhirnya lulus ujian tertulis.

Setelah ujian tertulis, setiap peserta diminta untuk menampilkan kelebihan yang dimiliki. Berdasarkan kisi-kisi yang berhasil ia dapatkan, ternyata kelebihan yang disenangi adalah yang berkaitan dengan seni dan budaya. Ketika menyadari kalau ia kurang berbakat dalam hal seni dan budaya, tiba-tiba ia teringat dengan jurus golok kembar Kiai Rais. Dimana Kyai Rais membawa 2 golok ke dalam aula, tempat para santri berkumpul. Kyai Rais lalu mengayunkan golok tajam secara serampangan, tidak fokus, ke arah bambu. Akibatnya, bambu itu tidak pernah putus. Selanjutnya, Kyai Rais mengayunkan golok yang tumpul ke arah bambu dengan sungguh-sungguh dan fokus. Sambil berkeringat dan mengeluarkan tenaga ekstra akhirnya bambu tersebut putus. Hingga akhirnya ia mendapatkan semangat baru bahwa dengan bersungguh-sungguh dan fokus maka keberhasilan pasti datang seperti yang digambarkan dengan golok tumpul.

Meskipun kurang mendapatkan apresiasi dalam penampilan seni dan budaya, Alif akhirnya berhasil lolos dengan menjual kelebihannya dalam seni mengolah kata menjadi makna. Alif pun akhirnya berhasil mewujudkan impiannya ke Kanada. Di Kanada, seperti kutipan kata-kata Imam Syafii diatas, Alif akhirnya bertemu dengan teman baru dan petualangan baru. Petualangan yang membuat semangatnya menggebu-gebu karena bertekad untuk memenangkan medali sebagai peserta terbaik.

Banyak kisah yang menarik semasa ia di Kanada. Mulai dari taktik, strategi, dan kesabaran Alif untuk mendapatkan waktu wawancara dengan tokoh pro dan kontra referendum Quebec yang ternyata tak semudah diangan. Wawancara dengan Lance Kapatuak, seorang Indian pemandu berburu dan bagaimana Alif dengan cerdasnya mencoba menutupi ironi berburu di Indonesia dengan olahraga berburu kandiak di kampung halamannya. Kisah romansa Alif dengan gadis pujaan hatinya yang baru. Serta bagaimana meriahnya pertunjukkan seni yang dilakukan para duta budaya bangsa.

Secara umum buku ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan Negeri 5 Menara. Man Shabara Zhafira benar-benar mendapatkan porsi yang ideal di buku ini, hingga kita dibuat sadar bahwasanya kesungguhan yang ditambah dengan kesabaran pada akhirnya akan menjadikan kita berhasil dan beruntung. Novel ini juga berhasil membuat saya sering berpikir kalau Alif Fikri adalah pengejewantahan dari Ahmad Fuadi dalam hal nyata, mulai dari kisah petualangan Alif di novel ini hingga kesamaan inisial diantara mereka. Dan ketika mengkhatamkan buku ini, Ahmad Fuadi juga berhasil memaksa saya untuk mengamalkan Man Shabara Zhafira dalam menunggu kelanjutan kisah selanjutnya dari novel ini...

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara


Negeri 5 Menara
Menara 5 Negara.jpg
Penulis Ahmad Fuadi
Ilustrator Doddy R. Nasution
Seniman sampul Slamet Mangindaan
Negara Indonesia
Bahasa Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu
Genre Edukasi, Religi, Roman
Penerbit Gramedia (Jakarta)
Tanggal terbit Juli 2009
Halaman 416
ISBN 978-979-22-4861-6
Negeri 5 Menara adalah novel pertama karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2009. Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang jauh dari rumah dan berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Mereka adalah:
  1. Alif Fikri Chaniago dari Maninjau
  2. Raja Lubis dari Medan
  3. Said Jufri dari Surabaya
  4. Dulmajid dari Sumenep
  5. Atang dari Bandung
  6. Baso Salahuddin dari Gowa
Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sinopsis

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain sepak bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.
Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya, belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.
Dia terheran-heran mendengar komentator sepak bola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Tokoh-tokoh

  • Alif : Tokoh 'aku' dalam cerita ini.
  • Raja :
  • Said :
  • Dulmajid :
  • Atang :
  • Baso :

[sunting] Tokoh-tokoh Lain

  • Amak :
  • Ayah / Fikri Syafnir / Katik Parpatiah Nan Mudo :
  • Pak Sikumbang :
  • Pak Etek Muncak :
  • Pak Etek Gindo Marajo :
  • Pak Sutan :
  • Ismail Hamzah :
  • Burhan :
  • Ustadz Salman :
  • Kiai Amin Rais :
  • Kak Iskandar Matrufi :
  • Rajab Sujai / Tyson :
  • Ustadz Torik :
  • Raymond Jeffry / Randai :
  • Ustadz Surur :
  • Ustadz Faris :
  • Ustadz Jamil :
  • Ustadz Badil :
  • Ustadz Karim :
  • Kak Jalal :
  • Amir Tsani :
  • Pak Yunus :
  • Kurdi :
  • Ustadz Khalid :
  • Shaliha :
  • Sarah :
  • Mbok Warsi :
  • Zamzam :

Pranala luar

MENUNTUT ILMU HADITS

MENUNTUT ILMU HADITS ADALAH AMALAN UTAMA DISISI ALLAH تعالى

MENUNTUT ILMU HADITS ADALAH AMALAN UTAMA DISISI ALLAH تعالى

1. Dari Jabir bin Abdillah :

Adalah Rosululloh صلى الله عليه وسلم Ketika Berkhutbah, Beliau bersabda :

فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة
“Bahwa sebaik baik pembicaraan adalah kitab Allah, dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap bid’ah itu sesat”.


Sahih. Diriwayatkan oleh Muslim didalam Shahih-nya (2/592), Abu Dawud dalam sunan-nya (3/36), An-Nasa’i didalam As-Sunan Al-Kubro (1/550) serta dalam Sunan Ash-Shughro (3/188), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1/17), Ahmad dalam Al-Musnad (3/319), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunah (1/16), Ibnul Mubarok dalam Al-Musnad (54) serta dalam Az Zuhud (556), Al-Baihaqi dalam Asma wa Shifat (1/203), Ibnu Wadhah dalam Al-Bida’ (55), Ad-Darimi dalam Al-Musnad (1/69), Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/143), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (1/186), Al Lalika’i dalam Al-I’tiqod (1/76), dll. dari jalan Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir dengannya.
Berkata syaikh Abu Abdurohman, Sebagian rawi meriwayatkan dengan panjang hadits ini, dan sebagian lain meringkasnya.
Hal ini menunjukkan Wajib mempelajari Kitab Allah تعالى dan Sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم.

2. Dari Irbadh bin Sariyah :

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah menasehati kami dengan nasehat yang sangat mengesankan sehingga bergetar hati dan berlinang air mata kami, lalu kami berkata: ‘Ya Rosululloh, seakan-akan ini nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat!’
Maka Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat, walaupun yang memerintah kalian seorang budak. Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian hidup sepeninggalku nanti akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka kembalilah kepada sunnah-Ku dan sunnah Khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian dan waspadalah terhadap perkara perkara baru, karena setiap perkara baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan di neraka.”

Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud didalam sunan-nya (4/200-201), Ahmad dalam Al-Musnad (4/126). Ibnu Hibban dalam shahih-nya (1/104), At-Turmudzi dalam Sunan-nya (5/45), Ibnu Majah dalam sunan-nya (1/67), Ibnu Jarir dalam tafsir-nya (6/212), dll. dari jalan Walid bin Muslim, ia berkata, berkata kepada kami Tsaur bin yazid, ia berkata, berkata kepada kami Khalid bin Mi’dan, dia mengatakan, berkata kepada kami Abdurrahman bin Amr As Sulami, dan Hujur bin Al Khala’i darinya.

3. Dari Sufyan Ats Tsauri:

“Aku tidak mengetahui amalan yang dimuka bumi ini yang lebih afdol dari pada menuntut ilmu hadits bagi orang yang dikehendaki dengan wajahnya”

Diriwayatkan oleh Baghowi dalam Al- Madkhal(303) Abu Nuaim dalam Al Hikmah (6/336) Al-Khatib dalam Syarfu Ash-Habil Hadits (148). Dari beberapa jalan dari Waki’, dia mengatakan : aku mendengar sufyan mengatakan dengannya. berkata syaikh Abu Abdurohman Sanadnya shahih

4. Dari Bisyr bin Al-Harits berkata:

“Aku tidak mengetahui amalan dimuka bumi ini yang paling afdol daripada menuntut ilmu Hadits bagi orang yang bertaqwa kepada Allah dan berniat baik. Adapun aku, akan meminta ampun kepada Allah dari semua langkah yang aku langkahkan didalam-nya”.

Diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Syarfu Ash-Habil Hadits (150), dari jalan Muhammad bin Al-Abbas Al-Kazzaz ia berkata, berkata kepada kami Abul Fadl Al Shandali ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Bakhtan Al-Qazzaz ia berkata, aku mendengar Bisyr bin Harits denganya.
Berkata Syaikh Abu Abdurohman sanadnya shahih.

5. Waki’ bin Al-Jarrah mengatakan :

“Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih afdhol dari mencari hadits.”

Diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syarfu Ash-Habil Hadits (150) dari jalan Ahmad bin Abdulloh bin Al-Khadhir Al-Muqri ia berkata, berkata kepada kami Ali bin Muhammad bin Sa’id, berkata kepada kami Abu ya’la Al-Maushily, aku mendengar Ibrahim bin Said Al-Jauhari berkata, aku mendengar Waki’ berkata dengannya.
Berkata Sayikh Abu Abdurohman sanadnya shahih.

6. Sufyan Ats-Tsauri mengatakan :

“Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih afdhol darinya –yakni al-hadits- bagi orang yang menghendaki Allah dengannya.”

Dirwayatkan oleh Ar-Ramahurmuzi dalam Al-Muhadditsul Fashil (177), Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syarfu Ash-Habil Hadits (149) dari dua jalan dari Waki’ ia mengatakan aku telah mendengar Sufyan Ats-Tsairi dengannya.
Syaikh berkata sanadnya shahih.

7. Abdulloh bin Al-Mubarok berkata:

“Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih afdhol dari menuntut ilmu hadits bagi orang yang menginginkan Allah”

Diriwayatkan oleh Al-Baghowi dalam Al-Madkhal (309) dari jalan Ali bn Hamsyad ia berkata, berkata kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, berkata kepada kami Ishaq bin Ismail Al-Thalaqoni, berkata Ibnu Mubarok. Sanadnya shahih.
Berkata Al-Khatib Al-Baghdadi didalam Syarful Ash-Habil Hadits(15), “Dan kami meyakini yang tidak ada keraguan didalamnya, bahwa menuntut ilmu hadits itu akan mendatangkan pahala bagi pelakunya.”

Demikianlah Fadhilah penuntut ilmu sunnah, dan insya Allah selanjutkan akan kami tambahkan pembahasan selanjutnya. Wallahu Musta’an.

Pembahasan ini disarikan dari kitab Al-Azhar Al-Mantsuroh fi Tabyini Anna Ahlal Hadits Hum Al-Firqotu An-Najiyah wath-Thoifah Al-Manshuroh, penulis Abu Abdurohman al-Atsari.

Rabu, 13 April 2011

Takdir

Artist : Opick

Lirik Lagu : Takdir

Opick Ft. Melly G - Takdir 

dihempas gelombang dilemparkan angin
sekisah kubersedih kubahagia
di indah dunia yang berakhir sunyi
langkah kaki di dalam rencananya
semua berjalan dalam kehendaknya
nafas hidung cinta dan segalanya
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
bila mungkin ada luka coba tersenyumlah
bila mungkin tawa coba bersabarlah
karena air mata tak abadi
akan hilang dan berganti ( hilang kan berganti )
bila mungkin hidup hampa dirasa
mungkinkan hati rindukan dia
karena hanya dengannya hati tenang
damai jiwa dan raga
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
hanya padamu ya robbi