Selasa, 10 Mei 2011

Ranah 3 Warna

selasa, 10 mei 2011

Ranah 3 Warna

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
– Imam Syafii -

Selayaknya perjalanan hidup yang terus berjalan seiring dengan waktu, begitu pun dengan kehidupan Alif Fikri yang tetap berjalan seiring dengan pertambahan usia. Alif yang dalam Negeri 5 Menara masih menuntut ilmu di Pondok Madani, sekarang telah mengkhatamkannya dan kembali ke kampung halaman. Meskipun telah khatam dari PM, Alif masih menyimpan hasrat yang terpendam, menjadi penerus Habibie! Untuk itu ia bertekad agar dapat lulus dan mengenyam pendidikan di ITB, kampus yang juga ia impikan. Akan tetapi, sebagai lulusan pesantren yang tanpa ijazah, ternyata jalan yang harus ditempuh untuk mencapai apa yang ia inginkan sungguh berliku, mulai dari harus lulus dari ujian persamaan sampai lulus UMPTN.

Sempat frustasi dan tertatih-tatih karena kesulitan mengejar materi ujian persamaan, semangat Alif kembali menjulang setelah terinspirasi kemenangan timnas Denmark di Piala Eropa tahun 1992. Denmark yang sangat tidak diperhitungkan karena lolos dengan predikat ‘pengganti’ ternyata mampu mengguncang dunia dengan menjadi kampiun di benua biru saat itu. Dengan semangat dinamit Denmark akhirnya ujian persamaan berhasil dilangkahinya meskipun dengan nilai yang agak pas-pasan. Menyadari memiliki kelemahan dalam ilmu pasti, Alif akhirnya banting setir ke Jurusan Hubungan International, karena ingin memenuhi hasratnya yang lain… menguasai banyak bahasa. Untuk itu alif harus kembali berjibaku dengan berbagai bahan UMPTN. Dan hasilnya ternyata tidak sia-sia, karena Alif berhasil menjadi salah satu peserta yang berhasil lulus.

Untuk kedua kalinya, Alif akhirnya kembali merantau, setelah sebelumnya merantau ketika mondok, sekarang Alif akan merantau untuk mengejar hasratnya menjadi penguasa bahasa. Dengan bekal dari motor honda bebek tahun 70 milik ayahnya yang telah dijual dan sepasang sepatu hitam pemberian ayahnya, petualangan pun dimulai. Tujuan pertama Alif adalah kos Randai karena Alif akan menumpang hidup di kos sahabat sekaligus kompetitor utamanya itu.

Hidup di bandung ternyata tidak semulus dan seindah yang dibayangkan, apalagi setelah Ayahanda tercintanya meninggal dunia. Sempat terpukul hingga semangatnya terjerembab ke titik paling bawah, Alif akhirnya meneruskan perjuangannya setelah mendapat beberapa pencerahan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah serta memberikan sedikit kiriman ke kampung halaman, Alif pun mulai berjualan dari pintu ke pintu dan mengajar les. Akan tetapi ternyata hidup seringkali tidak linear dengan harapan kita. Buah dari segala ikhtiar yang ia kerjakan bukan hanya belum sesuai dengan yang diharapkan akan tetapi ikhtiar tersebut malah membuat tubuh Alif menjadi hancur lebur, fisiknya menurun hingga akhirnya menderita Typhus.

Kesungguhan Alif dalam berikhtiar yang tak kunjung membuahkan hasil, pada akhirnya membuatnya tersadar bahwasanya Man jadda wajada saja tidaklah cukup, karena jarak antara kesungguhan dan hasil tidak pernah kita ketahui. Terkadang membutuhkan waktu satu detik, kadang dalam hitungan bulan, dan bahkan kadang berpuluh tahun. Eureka!! Dalam perenungannya tiba-tiba ia teringat akan pepatah arab lain yang diajarkan di PM, yaitu Man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Karena untuk mengisi antara kesungguhan dengan hasil memang membutuhkan kesabaran. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, dan sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Peribahasa inilah yang kemudian memompa kembali semangat Alif.

Dan ditengah kesabaran itulah Alif akhirnya menyadari, kalau panggilan jiwanya ternyata bukanlah di jalur perniagaan meskipun ia minang tulen, akan tetapi dalam hal tulis menulis dengan merangkai kata-kata menjadi makna. Untuk itu memperdalam ilmu penulisannya, Alif pun kembali kepada Togar dan memintanya kembali menjadi mahagurunya dalam hal merangkai kata, hingga akhirnya satu demi satu dari tulisan Alif mendapatkan apresiasi dan dimuat di surat kabar.

Man Shabara Zhafira ternyata memang bertuah, kesabaran yang aktif memang mendatangkan keberuntungan. Dalam perjalanan, secara tidak sengaja Alif bertemu dengan Asti yang pada akhirnya membuka jendela informasi Alif akan adanya pertukaran pelajar antara Indonesia dengan negara lain. Alif pun kemudian mulai mencari informasi tentang pertukaran pelajar tersebut,hingga akhirnya pendaftaran pertukaran pelajar tersebut dibuka, Alif pun segera mendaftar dan akhirnya lulus ujian tertulis.

Setelah ujian tertulis, setiap peserta diminta untuk menampilkan kelebihan yang dimiliki. Berdasarkan kisi-kisi yang berhasil ia dapatkan, ternyata kelebihan yang disenangi adalah yang berkaitan dengan seni dan budaya. Ketika menyadari kalau ia kurang berbakat dalam hal seni dan budaya, tiba-tiba ia teringat dengan jurus golok kembar Kiai Rais. Dimana Kyai Rais membawa 2 golok ke dalam aula, tempat para santri berkumpul. Kyai Rais lalu mengayunkan golok tajam secara serampangan, tidak fokus, ke arah bambu. Akibatnya, bambu itu tidak pernah putus. Selanjutnya, Kyai Rais mengayunkan golok yang tumpul ke arah bambu dengan sungguh-sungguh dan fokus. Sambil berkeringat dan mengeluarkan tenaga ekstra akhirnya bambu tersebut putus. Hingga akhirnya ia mendapatkan semangat baru bahwa dengan bersungguh-sungguh dan fokus maka keberhasilan pasti datang seperti yang digambarkan dengan golok tumpul.

Meskipun kurang mendapatkan apresiasi dalam penampilan seni dan budaya, Alif akhirnya berhasil lolos dengan menjual kelebihannya dalam seni mengolah kata menjadi makna. Alif pun akhirnya berhasil mewujudkan impiannya ke Kanada. Di Kanada, seperti kutipan kata-kata Imam Syafii diatas, Alif akhirnya bertemu dengan teman baru dan petualangan baru. Petualangan yang membuat semangatnya menggebu-gebu karena bertekad untuk memenangkan medali sebagai peserta terbaik.

Banyak kisah yang menarik semasa ia di Kanada. Mulai dari taktik, strategi, dan kesabaran Alif untuk mendapatkan waktu wawancara dengan tokoh pro dan kontra referendum Quebec yang ternyata tak semudah diangan. Wawancara dengan Lance Kapatuak, seorang Indian pemandu berburu dan bagaimana Alif dengan cerdasnya mencoba menutupi ironi berburu di Indonesia dengan olahraga berburu kandiak di kampung halamannya. Kisah romansa Alif dengan gadis pujaan hatinya yang baru. Serta bagaimana meriahnya pertunjukkan seni yang dilakukan para duta budaya bangsa.

Secara umum buku ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan Negeri 5 Menara. Man Shabara Zhafira benar-benar mendapatkan porsi yang ideal di buku ini, hingga kita dibuat sadar bahwasanya kesungguhan yang ditambah dengan kesabaran pada akhirnya akan menjadikan kita berhasil dan beruntung. Novel ini juga berhasil membuat saya sering berpikir kalau Alif Fikri adalah pengejewantahan dari Ahmad Fuadi dalam hal nyata, mulai dari kisah petualangan Alif di novel ini hingga kesamaan inisial diantara mereka. Dan ketika mengkhatamkan buku ini, Ahmad Fuadi juga berhasil memaksa saya untuk mengamalkan Man Shabara Zhafira dalam menunggu kelanjutan kisah selanjutnya dari novel ini...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar